• Fenomena Cyber Bullying dan Solusinya

    Fenomena Cyber Bullying dan Solusinya

    Cyberbullying tidak hanya dilakukan melalui internet, melainkan juga jaringan telefon, jaringan telefon selular, bahkan software game yang terhubung dengan internet.

  • The Lego Movie

    The Lego Movie

    The Lego Movie adalah sebuah film animasi yang digarap oleh studio ternama, Warner Bros, berkisah tentang petualangan tokoh LEGO yang dianggap ahli dalam bidang konstruksi pembangunan, direkrut oleh para jagoan untuk menyelamatkan dunia LEGO.

  • 10 Film Animasi Terbaik Sepanjang Masa

    10 Film Animasi Terbaik Sepanjang MasaFilm animasi adalah salah satu bagian paling menarik dalam dunia perfilman. Hanya di dalam film animasilah seorang produser bisa mengemukakan skenario yang tak mungkin di peragakan oleh manusia.

  • Merchandise Timeliness

    Merchandise Timeliness

  • Desain Grafis Animasi Group One

    Desain Grafis Animasi Group One

  • Mahasiswa Jurusan Komunikasi Belum Disiplin Gunakan Bahasa Jurnalistik

    Mahasiswa Jurusan Komunikasi Belum Disiplin Gunakan Bahasa Jurnalistik

    Jurusan ilmu komunikasi yang memang secara khusus mengajarkan disiplin ilmu jurnalistik seharusnya menjadi andalan perusahaan pers dalam merekrut sumber daya para jurnalis baru yang berkualitas tinggi.

Tampilkan postingan dengan label ilmu komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu komunikasi. Tampilkan semua postingan

Definisi Berita

0 komentar


1.      Secara sosiologis, berita adalah semua hal yang terjadi di dunia. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 63).

2.      Menurut pakar Jurnalistik, berita adalah apa yang ditulis surat kabar, apa yang disiarkan radio, dan apa yang ditayangkan televisi. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 63).

3.      Menurut Paul De Massanner dalam buku Here’s The News : Unesco Associate menyatakan, news atau berita adalah sebuah informasi yang penting dan menarik perhatian serta minat khalayak pendengar. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

4.      Charnley dan James M. Neal menuturkan, berita adalah laporan tentang suatu peristiwa, opini, kecenderungan, situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

5.      Doung Newsom dan James A. Wollert dalam Media Writing: News for the massa media (1985:11) mengemukakandalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

6.      Dean M. Lyle Spencer dalam News Writing menyatakan, berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar pembaca. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

7.      Michael V. Charnley dalam Repoting (1965) menegaskan, berita adalah laporan tercepat mengenai fakta dan opini yang menarik atau penting, atau kedua-duanya, bagi sejumlah besar penduduk. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

8.      Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and editing menulis, berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pemabaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

9.      William S. Maulsby dalam Getting the News menegaskan, berita bisa didefinisikan sebagai suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yag mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dap;at menarik perhatian para pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64).

10.  Dalam definisi jurnalistik, berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena dia lluar biasa, entah penting karena akibatnya, entah pua karena dia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi, dan ketegangan. (Juranalistik Indonesia, Drs. AS Haris Sumadiria, M. Si, Simbosia Rekatama Media, hal 64 - 65).





Read more

Komunikasi Politik

0 komentar


Pengertian Komunikasi Politik Definisi, Makalah, Teori Menurut Para Ahli Nimno - Politik berasal dari kata “polis” yang berarti negara, kota, yaitu secara totalitas merupakan kesatuan antara negara (kota) dan masyarakatnya. Kata “polis” ini berkembang menjadi “politicos” yang artinya kewarganegaraan. Dari kata “politicos” menjadi ”politera” yang berarti hak-hak kewarganegaraan (Sumarno, 1989:8). (Teori Komunikasi Politik Menurut Para Ahli)


Definisi Komunikasi Politik - Secara definitif,  ada beberapa pendapat sarjana politik, diantaranya  Nimmo (2000:8) mengartikan politik sebagai kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial. Dalam berbagai hal orang berbeda satu sama lain – jasmani, bakat, emosi, kebutuhan, cita-cita, inisiatif , perilaku, dan sebagainya. Lebih lanjut Nimmo menjelaskan, kadang-kadang perbedaan ini merangsang argumen, perselisihan, dan percekcokan. Jika mereka menganggap perselisihan itu serius, perhatian mereka dengan memperkenalkan masalah yang bertentangan itu, dan selesaikan; inilah kegiatan politik.

Bagi Lasswell (dalam Varma, 1995:258), ilmu politik adalah ilmu tentang kekuasaan. Berbeda dengan  David Easton dalam Sumarno (1989:8), mendefinisikan politik sebagai berikut:

“Political as a process those developmental processes through which person acquire political orientation and patterns of behavior”

Dalam definisi ini David Easton menitikberatkan bahwa politik itu sebagai suatu proses di mana dalam perkembangan proses tersebut seseorang menerima orientasi politik tertentu dan pola tingkah laku.

Apabila definisi komunikasi dan definisi politik itu kita kaitkan dengan komunikasi politik, maka akan terdapat suatu rumusan  sebagai berikut: Komunikasi politik adalah komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini, dapat mengikat semua warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga politik (Astrid, S. Soesanto, 1980:2).

Mengenai  komunikasi politik ini (political communication) Kantaprawira (1983:25) memfokuskan pada kegunaanya, yaitu untuk menghubungkan pikiran politik yang hidup dalam masyarakat, baik pikiran intra golongan, institusi, asosiasi, ataupun sektor kehidupan politik masyarakat dengan sektor kehidupan politik pemerintah.

Dengan demikian segala pola pemikiran, ide atau upaya untuk mencapai pengaruh, hanya dengan komunikasi dapat tercapainya segala sesuatu yang diharapkan, karena pada hakikatnya segala pikiran atau ide dan kebijakan (policy) harus ada yang menyampaikan dan ada yang menerimanya, proses tersebut adalah proses komunikasi.

Dilihat dari tujuan politik “an sich”, maka hakikat komunikasi politik adalah upaya kelompok manusia yang mempunyai orientasi pemikiran politik atau ideology tertentu  dalam rangka menguasai dan atau memperoleh kekuasaan, dengan kekuatan mana tujuan pemikiran politik dan ideology tersebut dapat diwujudkan.

Lasswell (dalam Varma, 1995:258) memandang orientasi komunikasi politik telah menjadikan dua hal sangat jelas: pertama, bahwa komunikasi politik selalu berorientasi pada nilai atau berusaha mencapai tujuan; nilai-nilai dan tujuan itu sendiri dibentuk di dalam dan oleh proses perilaku yang sesungguhnya merupakan suatu bagian; dan kedua, bahwa komunikai politik bertujuan menjangkau masa depan dan bersifat mengantisipasi serta berhubungan dengan masa lampau dan senantiasa memperhatikan kejadian masa lalu.

Dalam hal ini, R.S. Sigel (dalam Sumarno, 1989:10) memberikan pandangan sebagai berikut:

“Political socialization refers to the learning process, by which the political norms and behavior acceptable to an ongoing political system are transmitted from generation to generation.”

Dari batasan Sigel ini menunjukkan bahwa sosialisasi politik bukan hanya menitikberatkan pada penerimaan norma-norma politik dan tingkah laku pada sistem politik yang sedang berlangsung, tapi juga bagaimana merwariskan atau mengalihkan nilai-nilai dari suatu generasi kenegaraan berikutnya.

a. Komunikator politik
Menurut Nimmo, salah satu ciri komunikasi ialah bahwa orang jarang dapat menghindari dan keturutsertaan. Hanya dihadiri dan diperhitungkan oleh seorang lain pun memiliki nilai pesan. Dalam arti yang paling umum kita semua adalah komunikator,  begitu pula siapa pun yang dalam setting politik adalah komunikator politik (2000:28). Meskipun mengakui bahwa setiap orang boleh berkomunikasi  tentang politik, kita mengakui bahwa relatif sedikit yang berbuat demikian, setidak-tidaknya yang melakukannya serta tetap dan sinambung. Mereka yang relatif  sedikit ini tidak hanya bertukar pesan politik; mereka adalah pemimpin dalam proses opini. Para komunikator politik ini, dibandingkan dengan warga negara pada umumnya, ditanggapi dengan lebih bersungguh-sungguh bila mereka berbicara dan berbuat.

Sebagai pendukung pengertian yang lebih besar terhadap peran komunikator politik dalam proses opini, Leonard W. Dood dalam Nimmo (2000:30)  menyarankan jenis-jenis hal yang patut diketahui mengenai mereka: ”Komunikator dapat dianalisis sebagai dirinya sendiri. Sikapnya terhadap khalayak potensialnya, martabat yang diberikannya kepada mereka sebagai manusia, dapat mempengaruhi komunikasi yang dihasilkannya; jadi jika ia mengira mereka itu bodoh, ia akan menyesuaikan nada pesannya dengan tingkat yang sama rendahnya. Ia sendiri memiki  kemampuan-kemampuan tertentu yang dapat dikonseptualkan sesuai dengan kemampuan akalnya, pengalamannya sebagai komunikator dengan khalayak yang serupa atau yang tak serupa, dan peran yang dimainkan di dalam kepribadiannya oleh motif untuk berkomukasi.   

Berdasar pada anjuran Doob, jelas bahwa komukator atau para komunikator harus diidentifikasi dan kedudukan mereka di dalam masyarakat harus ditetapkan. Untuk keperluan ini Nimmo (2000:30) mengidentifikasi tiga kategori politikus, yaitu  yang bertindak sebagai komunikator pilitik, komunikator profesional dalam politik, dan aktivis atau komunikator paruh waktu (part time)

b. Politikus sebagai komunikator Politik
Kelompok pertama ini adalah orang yang bercita-cita untuk memegang jabatan pemerintah dan memegang pemerintah yang harus berkomunikasi tentang politik dan disebut dengan politikus, tak peduli apakah mereka dipilih, ditunjuk, atau jabatan karier, baik jabatan eksekutif, legislatif, atau yudikatif. Pekerjaan mereka adalah aspek aspek utama dalam kegiatan ini. Meskipun politikus melayani beraneka tujuan dengan berkomunkasi, ada dua hal yang menonjol. Daniel katz (dalam Nimmo,2000:30) menunjukkan bahwa pemimpin politik mengarahkan pengaruhnya ke dua arah, yaitu mempengaruhi alokasi ganjaran dan mengubah struktur sosial yang ada atau mencegah perubahan demikian.

Dalam kewenangannya yang pertama politikus itu berkomunikasi sebagai wakil suatu kelompok; pesan-pesan politikus itu mengajukan dan melindungi tujuan kepentingan politik, artinya komunikator politik mewakili kepentingan kelompoknya.  Sebaliknya, politikus yang bertindak sebagai ideologi tidak begitu terpusat perhatiannya kepada mendesakkan tuntutan kelompoknya, ia lebih menyibukkan diri untuk menetapkan tujuan kebijakan yang lebih luas, mengusahakan reformasi dan bahkan mendukung perubahan revolusioner.

Termasuk dalam kelompok ini, politikus yang tidak memegang jabatan dalam pemerintah, mereka juga komunikator politik mengenai masalah yang lingkupnya nasional dan internasional, masalah yang jangkauannya berganda dan sempit.

Jadi banyak jenis politikus yang bertindak sebagai komunikator politik, namun untuk mudahnya kita klasifikasikan mereka sebagai politikus (1) berada di dalam atau di luar jabatan pemerintah, (2) berpandangan nasional atau sub nasional, dan (3) berurusan dengan masalah berganda atau masalah tunggal.


c.    Profesional sebagai komunikator politik
Komunikator profesional adalah peranan sosial yang relatif baru, suatu hasil sampingan dari revolusi komunikasi yang sedikitnya mempunyai dua dimensi utama: munculnya media massa yang melintasi batas-batas rasial, etnis, pekerjaan, wilayah, dan kelas untuk meningkatkan kesadaran identitas nasional; dan perkembangan serta-merta media khusus yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan (Nimmo, 2002:33).

Seorang komunikator profesional, menurut James Carey (dalam Nimmo, 2000:33) adalah seorang makelar simbol, orang yang menerjemahkan sikap, pengetahuan, dan minat suatu komunitas bahasa ke dalam istilah-istilah komunitas bahasa yang lain dan berbeda tetapi menarik dan dapat dimengerti.  Komunikator profesional menghubungkan golongan elit dalam organisasi atau kominitas mana pun  dengan khalayak umum; secara horizontal ia menghubungkan dua komunitas bahasa yang dibedakan pada tingkat struktur sosial yang sama.

Bagaimanapun, karena menjadi komunikator profesional, bukan politikus, profesional yang berkomunikasi menempatkan dirinya terpisah dari tipe-tipe komunikator politik yang lain, terutama aktivis politik.

Sumber :
http://www.sarjanaku.com/2012/12/pengertian-komunikasi-politik-definisi.html






Read more

Tips Komunikasi PR

0 komentar

Mengelola Hubungan Konsumen di Media Sosial


Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup, sejalan dengan hal tersebut, keberadaan konsumen Indonesia di dunia maya memang demikian substansial. Mereka telah menjadikan media sosial sebagai bagian dari gaya hidup dalam berbagi informasi, interaksi, dan diskusi antarkomunitasnya. Dengan demikian, hal tersebut juga mengubah perilaku konsumen dalam berhubungan dengan merek. Interaksi yang awalnya bersifat vertikal menjadi horizontal; dari awalnya satu arah menjadi dua arah; dari yang awalnya “one to many” menjadi “many to many”; dari awalnya “broadcasting” menjadi “engagment” dan “permission- based” . dengan perubahan-perubahan tersebut, maka pendekatan kepada konsumen pun juga harus dirubah, salah satunya melalui pemanfaatan media sosial yang menitikberatkan pada bagaimana menciptakan komunikasi dan engagment  dengan konsumen.

Social media tidak lagi sekedar jejaring sosial, namun telah menjelma menjadi sebuah media berbisnis. Dengan memanfaatkan media sosial secara tepat dapat menjadi salah satu media promosii dan komunikasi yang baik bagi perusahaan dan konsumennya. Dalam hal ini, PR dapat menjadikan social media sebagai sarana menjalin relationship dan menjalin komunikasi dengan konsumennya. Selain itu, PR juga dapat menjadikan media sosial sebagai media edukasi tentang produknya kepada konsumen. Melalui komunikasi di media sosial, pemilik produk dapat mengetahui produk atau layanan seperti apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen.

Beberapa manfaat media sosial bagi PR dalam berhubungan dengan konsumennya:

1.       Sebagai media komunikasi dua arah di mana brand dan fans/followers sebagai sahabat yang sama kedudukannya.
2.       Memberikan layanan “customer servis” dua arah.
3.       Sebagai sarana product knowledge maupun edukasi produk. Terutama pada saat  ada “friend” yang menyerang lewat media sosial atau beredar luasnya keluhan pelanggan.
4.       Mempermudah untuk menggali insight atau pendapat konsumen tentang produk.

Lalu, Bagaimana sebaiknya PR mengelola hubungan konsumennya di media sosial?

1.       Giving. Dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan follower/friend gunakan prinsip “giving”, memberi-memberi-memberi. Berilah mereka konten-konten yang berguna berupa informasi , inspirasi, tips-tips yang berkaitan dengan merek anda. “the more you give, the more you get”. Semakin banyak anda memberi, maka followers/friends Anda akan memberikan loyalitas dan trust mereka kepada merek Anda.
2.       Conversations. Komunikasi yang anda lakukan haruslah dua arah, di mana setiap komentar, masukan, dan curhat dari follower/friends harus direspons secara interaktif.
3.       Listening. Fungsi penting komunikasi di samping conversation adalah mendengarkan (listening) . di ranah media sosial kita harus melakukan conversation dan listeniing secara proporsional. Dengan kontinyu mendengar updates atau posting dari followers/friends maka kita akan menunjukkan bahwa kita peduli kepada mereka, tidak selfish. Kepedulian ini merupakan modal luar biasa untuk menjalin relationship antara merek dengan konsumen.
4.       Passing. Harus mengerti gaya obrolan pada masing-masing media. Misalnya di Kaskus itu gaya obrolannya begini, beda dengan di FB atau twitter. Gaya bahasanya bagaiman, kita harus tahu dan bersedia meniru.
5.       Enthusiasm. Harus benar-benar ingin ngobrol. Jangan bilang mau ngobrol tapi jualan. Boleh juga diselipkan jualan, tapi jangan terlalu kentara. Dan harus bisa menerima kritik. Kritik di social media adalah hal biasa, terhadap suara sumbang, harus bisa menjelaskan dengan baik agar permasalahan menjadi clear.


Sumber : http://komunitaspr.wordpress.com/2012/04/16/tips-komunikasi/



Read more

Presentasi Powerpoint Sejarah Komunikasi Manusia

0 komentar





















Read more

Pengertian dan Jenis-jenis Berita

0 komentar






Berita adalah informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi. Berita dapat disajikan dalam bentuk media cetak, internet, siaran, atau dari mulut ke mulut.
Wartawan memiliki tugas penting dalam mencari serta mengumpulkan laporan berita. saat berita dilaporkan oleh wartawan, laporan tersebut menjadi fakta / ide terkini yang dipilih secara sengaja oleh redaksi pemberitaan / media untuk disiarkan dengan anggapan bahwa berita yang terpilih dapat menarik khalayak banyak karena mengandung unsur-unsur berita.
Pada umumnya stasium televisi memiliki acara berita dan menayangkannya sepanjang waktu. Kebutuhan berita sangat penting bagi masyarakat sebagai penambah wawasan.


Berita merupakan bentuk laporan tentang suatu kejadian yang sedang terjadi baru baru ini atau keterangan terbaru dari suatu peristiwa. Dengan kata lain berita adalah fakta menarik atau sesuatu hal yang penting yang disampaikan pada masyarakat orang banyak melalui media. Tapi tidak semua fakta bisa diangkat menjadi suatu berita oleh media. Karena setiap fakta akan dipilih mana yang pantas untuk disampaikan pada masyarakat.

Asal mula kata Berita sejarahnya

Kata BERITA sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta "VIRIT" atau dalam bahasa inggris disebut "WRITE" yang sebenarnya berarti "TERKADI" atau "ADA". Beberapa orang juga ada yang meyebut kata ini dengan kata "VRITTA" yakni "KEJADIAN" atau "YANG SEDANG TERJADI".
Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia "BERITA" adalah cerita atau keterangan mengenai kjadian atau peristiwa yang hangat.

Jenis -jenis berita 
Jenis-jenis berita yang di kenal dalam dunia jurnalistik adalah sebagai berikut:

A.    Straight news adalah berita langsung apa adanya. Di tulis secara singkat dan lugas.
B.     Depth news adalah berita mendalam di kembangkan dengan pedalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.
C.     Investigation news adalah berita yang di kembangkan berdasarkan penelitian atau penyidikan dari berbagai sumber.
D.    Interpretative news adalah berita yang di kembangkan dengan pendapat atau penilaian penulisnya/reporter.
E.     Opinion news adalah berita mengenai pendapat seseorang seperti tokoh, ahli, cendekiawan mengebai sesuatu.


Unsur penting dalam berita

Unsur penting dalam sebuah berita adalah 5W + 1H yaitu merupakan singkatan dari “what, who, when, where, why, how,”
Penjelasan dari 5w + 1H adalah :
  • WHAT = (Apa) topik dari suatu berita tersebut apakah kejadian atau peristiwa.
  • WHO = (Siapa) pelaku penting dalam peristiwa tersebut.
  • WHEN = (Kapan) peristiwa itu berlangsung.
  • WHERE = (Dimana) tempat kejadian peristiwa tersebut.
  • WHY = (kenapa) yaitu pertanyaan untuk mengetahui bagaimana sebuah peristiwa dapat terjadi.
  • HOW = (Bagaimana) kejadian itu dapat terjadi.

Sifat berita

Sifat dari berita adalah sebagai berikut :
  1. Aktual (baru). Hal-hal yang baru lebih memiliki nilai berita dibandingkan hal-hal yang terjadi sudah lama.
  2. Jarak (jauh/ dekat). Khalayak lebih tertarik akan kejadian yang terjadi di sekitar mereka dibandingkan dengan kejadian di tempat yang lebih jauh.
  3. Penting. Sesuatu menjadi berita saat dianggap penting, karena berpengaruh pada kehidupan langsung.
  4. Akibat. Sesuatu menjadi berita karena memiliki dampak yang besar
  5. Pertentangan/ konflik.
  6. Seks.
  7. Ketegangan.
  8. Kemajuan-kemajuan. Inovasi baru atau perubahan.
  9. Emosi, segala sesuatu yang apabila dikabarkan akan membuat marah, sedih, kecewa.
  10. Humor.
Pelaku - pelaku dalam suatu peristiwa
1.      Pelaku dalam suatu peristiwa = yaitu orang orang yang terlibat dalam kejadian tersebut, contoh = sanksi mata, pelaku utama. Pelaku ini menjawab bagian WHO dari 5W + 1H.

2.      Wartawan = pembuat berita / pencari berita. Wartawan bertugas mencari dan mengumpulkan informasi yang nantinya akan menjadi suatu berita.
3.      Konsumen = yaitu pembaca berita itu sendiri.

Berita harus bersifat lugas, sederhana, menarik, singkat, netral ( bahasa yang digunakan cocok untuk semua kalangan )

Media dalam penyampaian berita

Berita harus disampaikan kepada masyarakat secara luas.Media merupakan satu kunci terbesar dalam menyampaikan berita di masyarakat. Media yang digunakan dalam menyampaikan berita adalah :

1. Media cetak = koran, majalah, tabloid.
2. Media elektronik = televisi, radio, internet.
3. Dari mulut ke mulut.

Demikian artikel tentang Berita yang dapat saya sampaikan. Banyak banyaklah membaca berita agar wawasan anda dapat berkembang. Saya sarankan anda untuk membaca berita unik dan aneh karena berita tersebut merupakan berita yang paling banyak dicari.

Sumber :
http://beritatutorial.blogspot.com/2012/09/pengertian-berita.html





Read more